Perjalanan Memilih Integritas dibanding Pragmatisme

Terkini 09 Sep 2026 09:07 • 2 min read • 140 views • By R Rizky Natawijaya

Share berita ini

Perjalanan Memilih Integritas dibanding Pragmatisme
"Ijazah hanyalah bukti bahwa Anda pernah mengenyam pendidikan, bukan bukti bahwa Anda pernah berpikir". Yang jauh lebih substantif dari sekadar gelar adalah akhlak. Pernahkah Anda benar-benar memikirkan dan memperbaiki akhlak diri sendiri sebelum menilai jalan hidup orang lain? Pikirkan itu.

Lahir sebagai generasi angkatan ’91 dari daerah di Sumatra, saya memutuskan untuk merantau ke metropolitan tepat setelah lulus. Sempat menikmati masa-masa gap year selama setahun, saya akhirnya terlena dengan kenyamanan memiliki penghasilan sendiri dari pekerjaan pertama.

 

Baru pada tahun 1995, saya mencoba melangkah ke jenjang perguruan tinggi dengan mengambil jurusan Hukum. Namun, perjalanan itu saya hentikan di tengah jalan. Saat itu, dalam persepsi saya, seorang Sarjana Hukum identik dengan profesi advokat yang bergelut dalam dunia litigasi, ruang sidang, dan sistem peradilan sebuah ranah yang secara personal bertentangan dengan hati nurani saya terhadap realitas hukum negeri ini.

 

Waktu terus berjalan. Pada tahun 2004, saya dipercaya menjabat sebagai Kepala Personalia (setingkat HRD Manager) di sebuah Plaza, yang kemudian saya imbangi dengan memperdalam pendidikan non-akademik di bidang Human Resources.

Tak berhenti di situ, waktu itu pada kurun waktu 1995 hingga 1998, saya sempat menjadi anggota non-organik di sebuah badan intelijen. Meskipun sebatas agen non-organik yang harus melalui prosedur screening ketat serta pendidikan khusus, saya sangat menikmatinya karena banyak menyerap ilmu berharga dari pengalaman tersebut.

Dan ada satu profesi yang sebenarnya masih saya geluti hingga kini, meski untuk saat ini bisa dikatakan sudah tidak konsisten yaitu di bidang penagihan (debt collector), baik secara personal, berbadan usaha, hingga memimpin tim di sebuah perusahaan swasta maupun BUMN. Namun, selama 20 tahun terakhir ini, saya tidak pernah mau disebut sebagai Debt Collector, melainkan seorang Negosiator.

Baru pada tahun 2021, saya memutuskan untuk menyelesaikan gelar Sarjana Hukum melalui program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) selama satu tahun.

Keputusan meraih gelar akademis tersebut bukan untuk mengejar panggung peradilan, melainkan semata-mata untuk memperkuat kapasitas profesional saya sebagai Konselor, Mediator, Negosiator, dan Paralegal.

Banyak cemoohan luar yang berhembus, "Ah, profesi seperti itu kan tidak ada uangnya."

Tanggapan saya sederhana: Mengapa saya harus menjalani profesi yang bertentangan dengan hati nurani hanya demi materi?

Prinsip saya sudah bulat. Profesi ini mungkin tidak berorientasi pada profit (non-profit oriented), tetapi saya memegang teguh keyakinan bahwa Allah yang mengatur rezeki bukan ijazah, gelar, ataupun jenis profesi.

 

"Ijazah hanyalah bukti bahwa Anda pernah mengenyam pendidikan, bukan bukti bahwa Anda pernah berpikir". Yang jauh lebih substantif dari sekadar gelar adalah akhlak. Pernahkah Anda benar-benar memikirkan dan memperbaiki akhlak diri sendiri sebelum menilai jalan hidup orang lain?

Pikirkan itu. 

 

Penulis :

RRN Natawijaya, S.H., CFIP, CPP, C.MK., C.CP, C.Neg.

Analis Perilaku Sosial, Hukum, dan Agama

 

INTEGRIIS – Center for Counseling, Mediation & Dispute Resolution

Integris Media