Read Receipts WA. Muka Dua: Perspektif Psikologi Perilaku dan Akhlak Islam

Terkini 20 Aug 2026 07:42 3 min read 18 views By R Rizky Natawijaya

Share berita ini

Read Receipts WA. Muka Dua: Perspektif Psikologi Perilaku dan Akhlak Islam
Lebih mulia tegas berkata "Maaf, saya sedang sibuk, nanti dibalas" daripada sembunyi di balik fitur teknologi untuk menghindari komunikasi jujur.

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Fitur untuk mematikan tanda bahwa kita telah membaca pesan disebut Laporan Dibaca (Read Receipts).

Ini ada sudut pandang yang menarik untuk dibahas secara Islam dan psikologis. 

Dari kacamata psikologi perilaku dan analisis karakter, poin yang saya lempar ini punya dasar yang sangat kuat.

Ketika seseorang memilih untuk menyembunyikan status baca, secara tidak langsung ada pertimbangan bawah sadar (Subconscious Mind) yang bekerja :

Penundaan & Penghindaran Konfrontasi (Procrastination & Avoidance): Mengulur waktu untuk merespons karena enggan menghadapi isi pesan, takut salah memberi jawaban, atau menghindari konflik secara langsung pada saat itu juga.

 

Kebutuhan Control Over Perception: Ada rasa cemas jika terlihat "selalu siap" atau justru cemas jika terlihat "lambat membalas" setelah membaca. Mematikan fitur tersebut menjadi perisai aman agar tidak dihakimi orang lain.

 

Kurangnya Ketegasan (Assertiveness): Alih-alih berani membaca dan jujur menyatakan "Saya sedang sibuk, nanti saya balas", opsi menyembunyikan status dipilih agar tidak perlu memberikan penjelasan apa pun.

Bagi sebagian orang, privasi dijadikan alasan utama, misalnya untuk menjaga batasan (boundaries) dari tuntutan balasan serba cepat di era digital. 

Itu dari sudut pandang ketegasan sikap (assertiveness) dan transparansi. 

Jadi tindakan mematikan indikator tersebut sering kali menjadi representasi dari rasa takut akan konsekuensi komunikasi yang lugas. Kata lainnya Behavioral Avoidance atau Fear-driven Decision (penakut).

Dari Subconcius Mind alasan diatas akan menunjukkan (secara tidak langsung), anda tipe Over Perception (paranoid) dan Assertiveness.

 

Baiklah, sekarang decara singkat dalam perspektif Islam. Perilaku menyembunyikan status baca demi menghindari komunikasi atau menunda respons tanpa alasan yang syar'i dapat dibedah melalui beberapa prinsip mendasar mengenai akhlak, kejujuran, dan penunaian hak sesama muslim. 

Islam melihat masalah ini dari niat dan dampaknya pada hubungan.

Ketiadaan Ketegasan & Manipulasi (Ghisy)

Jika fitur ini dipakai untuk pura-pura tidak tahu, lari dari tanggung jawab, atau enggan berterus terang, ini bertentangan dengan prinsip kejujuran (siddiq). 

Rasulullah SAW menegaskan:

“Barangsiapa yang menipu/membuat tipu daya terhadap kami, maka ia bukan golongan kami.” (HR. Muslim)

 

Memicu Prasangka Buruk (Su'uzhan)

Sikap ambigu dan tidak transparan sering memancing spekulasi negatif dari lawan bicara. Padahal Islam melarang kita menciptakan celah fitnah:

“Jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa...” (QS. Al-Hujurat: 12)

 

Sisi Privasi yang Diperbolehkan, fitur ini baru bernilai positif jika niatnya murni menjaga privasi dan ketenangan diri (hifzh al-waqt), bukan untuk memanipulasi keadaan. 

Sesuai prinsip:

“Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak berguna baginya.” (HR. Tirmidzi)

 

Intinya: 

Lebih mulia tegas berkata "Maaf, saya sedang sibuk, nanti dibalas" daripada sembunyi di balik fitur teknologi untuk menghindari komunikasi jujur. Pemberani itu bukan orang yang tidak punya rasa cemas, tapi orang yang tetap memilih untuk berkomunikasi secara jujur dan transparan meskipun ada rasa tidak nyaman.

 

Note :

Ilmu dan teknologi hanyalah perkakas; tanpa akhlak, ia cuma melahirkan kesombongan yang terbungkus kata-kata bijak.

Ingat, ijazah itu cuma bukti anda pernah sekolah. Bukan bukti anda pernah berpikir, apalagi punya akhlak.

Wallahualam bisawab...

 

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. 

 

 

R. Rizky Natawijaya, S.H., CFIP, CPP, C.MK., C.CP, C.Neg.

 

Analis Perilaku Sosial Hukum, Agama dan Kebangsaan.

Integris Media