Kebenaran Hakiki di Tengah Arus Zaman: Meneladani Al-Qur'an dan Sunnah
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Kebenaran Hakiki di Tengah Arus Zaman: Meneladani Al-Qur'an dan Sunnah
Di tengah zaman yang riuh oleh opini publik dan perburuan popularitas, ukuran kebenaran sering kali terdistorsi. Seseorang tidak boleh ragu atau takut hanya karena kebenaran yang dipijaknya ditolak atau disalahkan oleh mayoritas. Sebaliknya, hal yang paling membahayakan jiwa dan iman adalah ketika kesalahan justru disanjung, dibenarkan, dan dijadikan norma. Kebenaran yang hakiki tidak diukur dari banyaknya pengikut, melainkan dari landasan dalil yang sahih sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur'an surah Al-An'am ayat 116, bahwa menuruti kebanyakan orang di muka bumi justru berisiko menyesatkan dari jalan Allah karena mereka hanya mengikuti persangkaan belaka. Oleh karena itu, berpegang teguh pada Sunnah Nabi dan jalan Khulafaur Rasyidin—sebagaimana riwayat HR. Abu Dawud No. 4607—menjadi benteng utama agar tidak tersesat dalam pembenaran semu.
Setiap hamba hendaknya menjadikan Al-Qur'an dan Sunnah sebagai timbangan utama dalam setiap perkara (QS. An-Nisa': 59) dan tak ragu bertanya kepada orang yang berilmu saat tidak mengetahui (QS. An-Nahl: 43). Kita dituntut untuk selalu menerima kebenaran dari siapa pun dengan rendah hati, serta menjauhi fanatisme kelompok maupun diri sendiri, sebab pengikut kebenaran dan orang yang bersyukur itu jumlahnya memang sedikit (QS. Saba': 13). Lebih dari itu, penting bagi kita untuk selalu mencari kebenaran, bukan sekadar mencari pembenaran. Proses ini dijalani secara berurutan mulai dari membaca, memahami, mengamalkan, hingga mendakwahkannya, seraya berdoa agar Allah senantiasa menjaga hati dan langkah kita untuk tetap teguh di atas kebenaran meskipun harus berjalan sendirian.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Oleh :
R Rizky Noor Natawijaya
Related Articles