Ketika Empati Hilang: Meringis di Bawah Kerakusan, Lumpuh oleh Pembiaran

Opini 21 Jul 2026 18:59 2 min read 32 views By R Rizky Natawijaya

Share berita ini

Ketika Empati Hilang: Meringis di Bawah Kerakusan, Lumpuh oleh Pembiaran
Sudah saatnya kita berhenti saling menunjuk sambil terus memaklumi kecurangan diri sendiri.

Indonesia hari ini tidak sedang krisis orang pintar. Gelar akademis berderet, prestasi gemilang dipamerkan. Indonesia juga tidak kekurangan orang kaya. Mobil mewah melintas di jalanan kota, harta berlimpah dipajang di media sosial. Namun, di balik megahnya gedung-gedung bertingkat dan pencapaian itu, ada satu hal mendasar yang kian tergerus: empati.

 

Korupsi Besar yang Menelan Rakyat

Ketika empati menguap dari dada para elit, kekuasaan dan kepintaran berubah menjadi senjata. Korupsi skala besar merajalela tanpa rasa bersalah. Triliunan rupiah uang negara—uang milik rakyat—dikeruk, disembunyikan dalam tas-tas gelap dan rekening tak tersentuh.

 

Dampaknya langsung menelan rakyat kecil:

- Fasilitas Umum Rusak: Jalanan berlubang, sekolah ambruk, dan rumah sakit tanpa layanan layak.

- Kesejahteraan yang Makin Jauh: Keadilan hukum tumpul ke atas, sementara rakyat dibiarkan mengais sisa-sisa harapan di tengah kemiskinan yang mencekik.

“Saat empati hilang, korupsi tumbuh tanpa rasa bersalah. Hati tertutup, kemanusiaan pun terlupakan.”

 

Korupsi Kecil yang Tak Terasa: Bayang-Bayang di Antara Kita

Namun, jangan hanya menuding ke atas. Tragedi terbesar bangsa ini bukan cuma koruptor berdasi yang merampok triliunan, melainkan budaya korupsi kecil-kecilan yang kerap kita lakukan sendiri tanpa merasa bersalah.

 

Tanpa kita sadari, penyakit ini menjalar di keseharian rakyat:

- Menyogok petugas agar urusan cepat selesai.

- Memotong antrean dan mengabaikan hak orang lain.

- Memakai bantuan sosial yang harusnya milik tetangga yang lebih membutuhkan.

- Mengambil kembalian lebih atau tidak jujur dalam menakar jual-beli.

 

Korupsi skala makro menelan rakyat secara paksa, tetapi korupsi-korupsi kecil yang tak disadari inilah yang melumpuhkan kepekaan nurani kita. Ketika rakyat memaklumi kecurangan-kecurangan kecil, secara tidak langsung kita memelihara iklim yang subur bagi tumbuhnya koruptor-koruptor besar di masa depan.

 

Menagih Rasa yang Hilang

Negeri ini sedang mengalami krisis rasa. Pintar tanpa empati hanya melahirkan pemeras. Kaya tanpa kepedulian hanya menciptakan jurang kemiskinan yang makin dalam.

 

Sudah saatnya kita berhenti saling menunjuk sambil terus memaklumi kecurangan diri sendiri. Pertanyaannya kini kembali kepada kita: Kita mau sekadar jadi pintar dan cerdik memanipulasi... atau juga berani punya peduli? 

 

 

 

R. Rizky Natawijaya, S.H., CFIP, CPP, C.MK., C.CP, C.Neg.

Analis Perilaku Sosial, Ormas dan Kebangsaan

Integris Media