Menggugat Jiwa Kaca Tipis dan Sumbu Pendek

Opini 16 Jul 2026 14:20 2 min read 45 views By R Rizky Natawijaya

Share berita ini

Menggugat Jiwa Kaca Tipis dan Sumbu Pendek
Secara psikologis, ini adalah potret anomi sosial dan degradasi kognitif, di mana logika sering kali dikesampingkan demi kepuasan ego kelompok

Ada yang bilang,

"Negara ini seperti kaca yang paling tipis, sedikit ada gangguan langsung pecah, atau seperti bensin sedikit diberi api kecil langsung terbakar."

Kalau saya bilang, kalimat itu harus diralat. Bukan negaranya, tapi manusia di dalam negara tersebut.

 

 

Bukan negara ini yang rapuh layaknya kaca tipis atau peka bagai bensin. Negara hanyalah wadah. Yang sebenarnya ringkih adalah mentalitas manusia di dalamnya—keburu retak sebelum diuji, dan mendidih sebelum memahami.

 

 

Keliru jika menganggap negara ini yang mudah pecah atau terbakar. Tanah air ini kokoh. Yang bermasalah adalah isi kepala manusia di dalamnya: berjiwa kaca yang mudah retak oleh perbedaan, dan bersumbu pendek yang mudah menyulut kehancuran hanya karena percikan kecil.

 

 

Secara psikologis, ini adalah potret anomi sosial dan degradasi kognitif, di mana logika sering kali dikesampingkan demi kepuasan ego kelompok. Kita menyaksikan fenomena sumbu pendek ini mewujud dalam hilangnya kemampuan self-regulation (pengendalian diri), membuat masyarakat begitu reaktif terhadap disinformasi dan mudah terpolarisasi.

Islam telah jauh-jauh hari mengingatkan penyakit mentalitas seperti ini. Dalam surah Al-Hujurat ayat 6, kita diperintahkan untuk senantiasa melakukan tabayyun—sebuah konsep verifikasi ilmiah dan spiritual agar kita tidak menimpakan bahaya kepada suatu kaum karena kebodohan atau ketergesaan kita. Sumbu yang pendek adalah tanda hilangnya sabar dan tadaruk (kontemplasi), dua pilar penting yang menjaga akal sehat dari bisikan amarah.

 

 

Rasulullah SAW pun menegaskan bahwa "Orang yang kuat itu bukanlah yang jago bergulat, melainkan orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah." Ketika jiwa selembut dan serapuh kaca, ia akan kehilangan esensi rahmatan lil 'alamin—rahmat bagi semesta alam. Padahal, perbedaan adalah ketetapan sunnatullah yang seharusnya menjadi ruang untuk saling mengenal (li-ta'arafu), bukan bahan bakar untuk saling membakar.

Sudah saatnya kita menukar jiwa kaca ini dengan mentalitas baja, dan memutus sumbu pendek itu dengan benteng kebijaksanaan. Kebangsaan kita tidak akan runtuh oleh musuh dari luar, melainkan dari rapuhnya benteng spiritualitas dan intelektualitas manusia di dalamnya.

 

 

Ditulis oleh :

R. Rizky Natawijaya, S.H., CFIP, CPP, C.MK., C.CP, C.Neg.

Analis Perilaku Sosial dan Kebangsaan

Integris Media