SABAR dan WAKTU

Opini 11 Jul 2026 18:26 2 min read 40 views By R Rizky Natawijaya

Share berita ini

SABAR dan WAKTU
"Waktu menuntut ketepatan. Sabar menuntut keteguhan. Tapi jangan pernah pakai sabar untuk menunda yang waktunya sudah tetap"

*1. WAKTU itu Objektif dan Tak Terbantahkan*

Betul sekali waktu adalah konstan, universal, dan tidak bisa dikompromikan. Satu menit tetaplah 60 detik, dan waktu terus berjalan tanpa menunggu siapa pun. 

Contoh yang antum berikan seperti "waktu sholat", atau "kejar deadline", sangat tepat. Waktu tidak akan berhenti hanya karena kita sedang “berusaha” atau sedang “sabar”. Ia tetap akan bergerak.

Dalam Islam pun waktu sangat ditekankan :

"Sesungguhnya sholat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman." (QS. An-Nisa: 103)

 

2. SABAR adalah Respon Subjektif dan Psikologis.

Sedangkan sabar adalah sikap batin, ia adalah cara kita merespons tekanan, rasa sakit, kekecewaan, atau proses. Sabar itu fleksibel: bisa ditunda, dilatih, dan bahkan hilang. Artinya, sabar bukan sesuatu yang absolut.

 

Sabar tidak bisa dijadikan alasan untuk menunda yang wajib, terutama bila urusannya adalah sesuatu yang sudah pasti dan terikat waktu. Seperti sholat, janji, waktu kerja, atau tanggung jawab sosial. 

 

3. Perbedaan Filosofis: Ketepatan vs. Keteguhan.

- Waktu bicara tentang ketepatan (precision).

- Sabar bicara tentang keteguhan (resilience).

 

Ketika orang berkata “sabar dulu ya”, mereka kadang keliru konteksnya. 

Misal :

“Sabar aja nanti juga sempat sholat.”

Padahal tidak ada jaminan waktu akan menunggu, dan sabar bukan alasan untuk menunda amal wajib. 

 

4. Sabar Itu Menyertai Usaha, Bukan Menggantikan Tindakan.

Contoh benar penggunaan sabar :

- Ketika kita berjuang mengejar waktu sholat dan mengaji. Lalu macet, diganggu, halangan fisik, maka di situlah sabar berlaku (udzur yang syar'i)

- Tapi kalau belum bergerak lalu hanya berkata “sabar”, itu malah bentuk kelalaian yang dibungkus alasan. 

 

Kesimpulan Pendek :

Ok guys, waktu itu PASTI dan sabar itu FLEKSIBEL. Dan sabar TIDAK BISA menggantikan urgensi waktu. Bahkan dalam Islam, banyak amal dikejar sesuai waktu, bukan ditunda pakai alasan sabar.

Memang SABAR mudah dipuji banyak orang, tapi WAKTU berkualitas hanya orang berkualitas yang mengerti.

 

Nih, sekarang saya simpulkan dengan kata-kata mutiara atau berlian :

"Waktu menuntut ketepatan. Sabar menuntut keteguhan. Tapi jangan pernah pakai sabar untuk menunda yang waktunya sudah tetap." 

 

Smd,160725

 

Note :

Semoga tulisan ini membantu kita untuk lebih disiplin dalam ketaatan, karena sabar tanpa ketepatan waktu hanyalah sebuah penundaan yang disamarkan

 

 

 

Ditulis oleh :

R. Rizky Natawijaya, S.H., CFIP, CPP, C.MK., C.CP, C.CDm, C.Neg. 

Integris Media