Memutarbalikkan Kata dalam Timbangan Akhlak Islam
Asalamualaikum, saudaraku....
Hati-hati karena memutarbalikkan Kata dalam Timbangan Akhlak Islamini adalah tindakan yang kadang tidak kita sadari, karena sering kali kita anggap tidak serius. Berikut adalah beberapa istilah dalam
Islam yang menggambarkan perilaku tersebut:
1. Tahrif al-Kalam
Secara harfiah, tahrif berarti mengubah, membelokkan, atau memutarbalikkan. Perilaku memutarbalikkan fakta atau ucapan orang lain agar maknanya berubah dan merugikan orang tersebut masuk dalam kategori ini. Dalam Al-Qur'an, sifat memutarbalikkan perkataan (yuharrifuna al-kalim) awalnya disematkan pada kaum terdahulu yang suka mengubah firman Allah, namun dalam konteks muamalah (hubungan antarmanusia), tindakan ini adalah bentuk kebohongan dan manipulasi psikologis.
2. Al-Khida' atau Makr
Istilah ini merujuk pada tipu daya, kelicikan, atau manipulasi. Memutarbalikkan obrolan untuk menjatuhkan mental seseorang secara halus adalah bentuk makar dan tipu daya yang nyata. Pelakunya tampak seolah-olah sedang berbicara biasa, namun ada niat tersembunyi untuk merusak reputasi atau menyakiti perasaan korban.
3. Talbis
Talbis artinya mencampuradukkan antara kebenaran dan kebatilan hingga membuat orang lain bingung atau merasa bersalah (mirip dengan fenomena gaslighting dalam psikologi modern). Pelaku mengambil sebagian ucapan korban, memelintirnya, lalu menggunakannya untuk menyerang balik korban.
4. Istihza' yang Terselubung
Jika perputaran kata-kata tersebut tujuannya adalah untuk mengolok-olok atau meremehkan tanpa terlihat frontal, maka ia masuk dalam kategori istihza' (penghinaan atau olokan). Allah SWT melarang keras hal ini dalam Surah Al-Hujurat ayat 11:
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, karena boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok)..."
Kesimpulan
Perilaku mem-bully secara tidak langsung dengan memutarbalikkan kata-kata adalah perbuatan yang haram karena mengandung unsur kebohongan (kadzib), tipu daya (khida'), dan menyakiti sesama muslim (idza'ul mukmin). Islam sangat menekankan pentingnya kejujuran dan kelurusan dalam berbicara (qaulan sadida).
Semoga Allah SWT senantiasa menjaga lisan kita dari sifat tercela dan membimbing kita semua untuk selalu menjaga perasaan sesama. Ingat obrolan si Fulan dengan antum atau pertanyaan antum padanya adalah bukan pada saat sidang di pengadilan.
Wabillahi taufiq wal hidayah,
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Penulis:
R. Rizky Noor Natawijaya
Related Articles